Pentingnya Memahami Manajemen Resiko dalam Investasi Saham

Pentingnya Memahami Manajemen Resiko dalam Investasi Saham

Investasi akan selalu ada risiko di dalamnya, entah itu investasi emas, saham, properti, atau jenis investasi lainnya. Maka dari itu, seluruh orang yang terjun di dunia investasi harus memahami yang namanya manajemen risiko di dalam Investasi.Tentunya penerapan manajemen risiko pada investasi adalah salah satu kunci kesuksesan seorang investor.

Manajemen risiko pada investasi merupakan proses pengenalan berbagai resiko apa pun yang ada pada sebuah aset investasi serta mengontrolnya dengan baik. Dimana tujuan akhirnya supaya investor bisa membedakan risiko manakah yang bisa dikendalikan dan yang mana yang tak bisa dikendalikan, lalu meminimalisir potensi risiko yang ada pada portofolio aset.

Manajemen risiko pada investasi terdiri dari empat langkah, antara lain:

  •         Mengenal semua jenis risiko yang terkandung pada sebuah aset investasi tersebut
  •         Mencari tahu opsi atau cara mengatasi untuk mengontrol risiko-risiko yang ada
  •         Menyusun rencana terkait pengendalian risiko investasi
  •         Menerapkan pengendalian risiko ini selama berinvestasi terhadap aset yang dipilih.

Analoginya, Misalnya Anda akan pergi ke luar negeri. Jika hanya asal membeli tiket kemudian Anda berangkat begitu saja tapi tidak mengurus, visa, paspor, dan kebutuhan lainnya. Anda pasti menghadapi berbagai masalah pada prosesnya. Parahnya lagi, Anda akan dicekal sebab dianggap sebagai imigran gelap, perjalanan Anda ke luar negeri bisa lebih lancar bila telah menyusun itinerary, menyelidiki destinasi, dan menyiapkan seluruh dokumen atau berkas yang diperlukan. Seperti itulah kira-kira gambarannya bila kita sangkut pautkan dengan manajemen risiko investasi tersebut.

Terdapat banyak sekali cara mengontrol berbagai risiko investasi saham. Teknik yang bisa diterapkan sebagai manajemen risiko dalam berinvestasi paling populer yakni mempelajari secara detail mengenai aset pilihan sebelum melakukan investasi, diversifikasi portofolio, dan DCA (Dollar Cost Averaging). Dibawah ini penjelasan lengkapnya mengenai tiga teknik tersebut, seperti:

1.       Mempelajari Berbagai Jenis Investasi

Sejatinya seorang investor wajib mempelajari seluk beluk investasi terlebih dahulu, setelah itu barulah membuat sebuah keputusan. Misalnya Anda ingin melakukan investasi saham, maka pelajari secara mendalam pengertian soal saham serta bagaimana cara melakukan transaksi saham tersebut. Anda pun harus menganalisa emiten saham pilihan Anda. Jangan sampai malah saat membeli saham seperti Anda membeli kucing di dalam karung.

Lantas bagaimana bila tak memiliki waktu untuk melakukan analisis? Ya, Anda masih bisa memilih investasi lainnya yang memerlukan analisis sedemikian rupa. Investasi yang  tak memerlukan analisis dan menyita banyak waktu seperti reksa dana dan obligasi. Anda hanya perlu memahami soal reksa dana dan obligasi secara garis besar saja, tanpa harus melakukan analisis yang tergolong rumit.

Pentingnya Memahami Manajemen Resiko dalam Investasi Saham

2.       Diversifikasi Portofolio

Apakah Anda tahu kandungan pada risiko investasi dari setiap aset itu cukup bervariasi. Contohnya produk saham yang tergolong aset dengan risiko yang sangat tinggi, semantara obligasi tergolong aset investasi dengan risiko yang cenderung rendah. Dengan begitu, Anda bisa melakukan penerapan risiko terhadap investasi dengan memilih beberapa jenis aset pada satu portofolio.

Teknik paling sederhana untuk melakukan diversifikasi bernama konsep investasi berimbang yang melibatkan obligasi dan saham. Pertama, Anda harus membagi dulu anggaran investasinya menjadi dua bagian. Lalu alokasikan sebagian dana untuk membeli blue chip, sementara sebagiannya lagi untuk membeli obligasi dari ritel pemerintah.

Bisa dikatakan pertumbuhan profit pada obligasi tergolong stabil serta dijamin oleh pemerintah, hal ini memberi garansi dalam melindungi portofolio Anda dari gejolak di pasaran. Namun pertumbuhan profitnya lebih lambat jika dibandingkan dengan yang terjadi di saham. Maka dari itu, alokasikan juga sebagai anggaran untuk membeli saham untuk mengejar profit yang lebih besar.

Penerapan strategi investasi ini cocok bagi investor yang profil risiko pilihannya moderat. Dimana investor konservatif bisa mengalokasi anggaran investasi mereka lebih banyak ke aset obligasi. Sementara untuk investor yang agresif dapat menyisihkan anggaran lebih banyak ke aset seperti saham.

3.       Dollar-cost Averaging

Di tanah air, teknik DCA ini sering dikenal dengan istilah menabung saham. Dimana investor memiliki komitmen untuk melakukan investasi pada nominal tertentu dengan rutin, hal ini bertujuan untuk mengoleksi aset dengan harga terbaik untuk jangka panjang.

Seperti contoh, investor A memiliki komitmen menyisihkan sebagian gaji senilai 1 juta per bulannya untuk menabung saham. Kemudian dia memilih mengoleksi saham Mayora dan bank BRI. Tiap awal bulan, investor akan menyetor sebesar 1 juta ke RDN (Rekening Dana Nasabah). Setelah itu ia membeli kedua produk saham tadi di harga berapa saja yang berlaku saat itu, atau sebanyak lot sesuai dana pada RDN tersebut.

Strategi satu ini meminimalisir risiko investasi dari terjadinya pergolakan pada harga saham untuk jangka pendek. Dimana kedua saham tersebut juga dikenal sering berbagi dividen setiap tahunnya. Itu berarti investor A di masa akan datang akan mendapatkan laba atau profit berupa capital gain serta dividen.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.